Perjalanan Nabi Muhammad ke Taif

Posted: March 26, 2011 in Renungan

Jika membaca cerita tentang perjalanan Nabi Muhammad ke Taif ini, selalu membuat hati kita pengikutnya sangat trenyuh dan sedih. Keluhuran budi, rasa sayang beliau kepada umatnya melebihi dirinya sendiri tergambar jelas dalam cerita ini. Demi keselamatan umatnya di dunia dan di akhirat kelak, beliau rela dicaci, dimaki bahkan dilempari batu hingga berdarah-darah, namun tanpa sedikitpun rasa benci bahkan marah kepada Bani Thafiq tersebut.

Karena kesulitan mengembangkan dakwah di kalangan kaumnya sendiri, Quraish di Mekkah, selama 9 tahun awal pelantikannya sebagai Nabi oleh Allah s.w.t., maka Nabi memutuskan untuk hijrah ke Taif yang merupakan bandar kedua terbesar di Hijaz. Disitu terdapat Bani Thafiq yang sangat kuat dan besar jumlahnya. Nabi berharap bisa mempengaruhi Bani Thafiq untuk memeluk Islam. Nabi juga bercita-cita menjadikan Taif sebagai markaz dakwahnya.

Sesampainya di Taif, Rasulullahu mengunjungi 3 pemuka kaum Thafiq dan menyampaikan risalah Allah s.w.t. Namun bukan sambutan baik yang diterima, melainkan dilempari dengan kata-kata kasar dan diusir. Penentangan dan kata-kata kasar tersebut tidak menyurutkan semangat Nabi untuk berdakwah, jika pemimpin-pemimpinnya menolak, mudah2an para rakyatnya mau menerima. Maka Rasulullahu mendatangi rakyat biasa, namun bukan penerimaan baik yang diterima melainkan kata-kata kasar dan usiran. Akhirnya Nabi memutuskan untuk keluar dari Taif. Tetapi para rakyat biasa inipun tidak membiarkan Rasulullah keluar dengan aman dari Taif. Beliau keluar diiringi dengan ejekan, cemohan, bahkan lemparan-lemparan batu yang mengakibatkan tubuh Beliau yang mulia berdarah-darah.

Setelah agak jauh dari Taif, dalam keadaan terluka, yang beliau lakukan adalah berdoa kepada Allah s.w.t:

” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”

Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung-gunung disini khusus untuk menjalankan segala perintah kamu.”

Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat penjaga gunung-gunung  itu dimuka Baginda s.a.w,  kata Malaikat ini: “Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung yang berada sebelah menyebelah di kota ini berbenturan sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan perintahkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”

Namun apa jawab Rasulullahu mendengar janji-janji Malaikat itu yang sesuai dengan nafsu amarah ini? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata:”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”

Demikianlah ketinggian dan keluhuran budi beliau. Kasih sayang beliau kepada umatnya melebihi luas alam semesta ini. Kerisauan beliau terhadap keselamatan umatnya di Akhirat menyebabkan beliau rela berkorban bahkan nyawa sekaligus. Mudah-mudahan kita sebagai umatnya diberi kemampuan untuk melaksanakan tauladannya.

SR75

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s