Tohoku earthquake 11 Maret 2011

Posted: March 19, 2011 in Life

Jumat, 11 Maret 2011, sekitar jam 14.30 waktu Nagoya, ketika sedang menggandakan bahan presentasi untuk konferensi di Tokyo, istri tercinta menelpon. Istri saya sedang di rumah sendirian, sebuah apartemen milik kota Nagoya yang dibangun sebelum tahun 1980, sehingga tidak masuk kategori tahan gempa. Dari seberang sana, istri mengatakan ada gempa dengan nada ketakutan, pada saat itu saya baru sadar kalau ruang di mana saya berada sudah beberapa saat berayun-ayun. Saya dengan teman dari Tanzania langsung menunju ke pinggir jalan, cukup lama kami menunggu goncangan gempa berhenti. Karena sudah beberapa kali gempa terasa di Nagoya akhir-akhir ini, maka saya tidak berfirasat sama sekali kalau kejadian ini akan menjadi awal bencana besar di Jepang setelah perang dunia ke-2. Bahkan ketika salah seorang Sensei mengatakan telah terjadi gempa di wilayah Tohoku pada skala 7 (skala gempa tertinggi di Jepang) dan memicu tsunami warning, saya masih tetap beranggapan mungkin tsunami kecil. Namun setelah melihat live footage dari BBC news bagaimana tsunami dengan rakusnya menggilas pesisir kota Sendai, daerah pertanian, pelabuhan dan sebagainya, menyadarkan saya bahwa ini adalah bencana besar, kembali teringat kejadian tsunami Aceh tahun 2004 silam.

Sudah seminggu berlalu sejak terjadi goncangan 9 SR yang memicu tsunami, namun keadaan belum membaik, korban semakin banyak berjatuhan. Saya selalu mencari informasi terbaru dari NHK dan BBC news, serta beberapa koran yang bisa dipercaya. Tiga buah prefektur yang paling parah adalah Iwate, Miyagi dan Fukushima. PM Jepang mengakui bahwa ini adalah bencana yang belum pernah di hadapi oleh Jepang, dan meminta seluruh elemen kekuatan di Jepang bersatu padu mengatasi pasca bencana dengan berbagai macam cara.

Menurut beberapa ahli bencana, Jepang adalah merupakan negara yang paling siap menghadapi bencana, terutama tsunami dikarenakan negara ini paling banyak digoncang gempa dalam sejarahnya. Mereka banyak belajar dari gempa yang mengguncang Kobe tahun 1995. Namun, mengapa bencana yang sekarang ini daya rusaknya sangat luar biasa? Mengikuti wawancara seorang professor di NHK TV, gempa Tohoku ini, selain magnitude yang tergolong besar, ternyata beberapa gempa telah secara simultan di lepas pantai timur laut Jepang. Gempa yang spontan ini mengakibatkan gelombang tsunami yang saling memperkuat, sehingga daya rusaknyapun sangat kuat dan luas. Gempa seperti ini hanya terjadi dalam seribu tahun.

Sebenarnya Jepang sudah memperkirakan akan terjadi gempa besar, sehingga berbagai persiapan, meliputi persiapan menghadapi gempa seperti sosialisasi dan pembelajaran kepada masyarakat, peta evakuasi hingga strategi penanganan pasca gempa. Teringat, kami sering diberi gratis buletin updated tentang persiapan menghadapi gempa dan tsunami, hingga pernah mencoba ruang simulasi gempa. Namun, ternyata gempa Tohoku 11 Maret lalu ini memiliki energi seismik yang 90 kali lebih besar daripada perkiraan para ahli Jepang. Dan ternyata, efek pasca gempanya menjadi tambah berat dengan terjadinya masalah di PLTN Fukushima.

Beberapa jam setelah gempa Tohoku 11 Maret, PM Naoto Kan langsung membentuk dan mengepalai Tim Pasca Bencana, mengadakan press conference dan meminta seluruh elemen masyarakat dan pemerintah bersatu padu mengatasi efek pasca bencana. Hingga sekarang (seminggu pasca bencana), sekitar 7.000 jiwa dinyatakan meninggal sedangkan sekitar 10.000 jiwa belum diketahui nasibnya, diperkirakan korban akan terus bertambah. Pertama dalam sejarah, masyarakat jepang akan merasakan pergiliran mati lampu karena lumpuhnya PLTN Fukushima, ketiadaan gas, air bersih dan bahan bakar. Lumpuhnya transportasi darat yang mengakibatkan sulitnya melakukan evakuasi korban.

Menyimak berita selama seminggu ini, ada beberapa hal yang membuat saya kagum terhadap Jepang. Pemerintah Jepang sangat sigap, terbukti dengan banyaknya survivor yang diselamatkan tim evakuasi sehingga meminimalkan jumlah korban yang meninggal. Pemerintah Jepang cukup transparan, selalu mengupdate perkembangan dengan melakukan press conference, dan masyarakat Jepang cukup mempercayai Pemerintahnya.  Media pers di Jepang memberikan berita yang informatif, updated, berimbang, dan tidak bersifat mengacaukan dan provokatif. Selama seminggu, tidak ada satupun media yang mengambil gambar korban meninggal akibat tsunami (dengan kondisi tidak layak dilihat), tidak seperti yang dilakukan media Indonesia ketika tsunami Aceh. Karena mungkin orang Jepang memiliki etika menghormati mayat. Sekarangpun, media di Indonesia memberikan informasi yang sangat berlebihan tentang kondisi Jepang sekarang, membuat rakyat Indonesia yang memiliki keluarga di Jepang menjadi sangat khawatir.

Efek pasca gempa yang sekarang menjadi sorotan dunia adalah kemungkinan kebocoran nuklir pada reaktor PLTN Fukushima, hal ini juga yang menjadi isu utama media di Indonesia. PM Jepang, Tokyo Electric Power Company (TepCO), bekerja sama dengan SDF, Tokyo FireFighter dan expert-expert Jepang di bidang Nuklir berjanji akan melakukan segala hal untuk meminimalkan terjadinya kebocoran nuklir. Ledakan di reaktor nuklir Fukushima diawali dengan rusaknya sistem pendingin akibat gempa 9 SR. Rusaknya sistem pendingin mengakibatkan reaktor overheated, steam yang terbentuk berlebihan, level air yang menjaga fuel (uranium/plutonium) dalam temperatur operasionalnya menurun, mengakibatkan zirconium yang membentuk control rod meleleh dan beraksi dengan air menghasilkan gas hidrogen yang mengakibatkan ledakan. Jepang melakukan berbagai cara untuk mendinginkan reaktor nuklirnya. Pilihan yang berat adalah memompa air laut ke dalam reaktor, yang artinya mempensiunkan reaktor itu untuk selamanya. Dan hal ini sudah dilakukan melalui udara dengan helikopter dan melalui darat dengan water cannon. Beberapa media termasuk media asing sudah memberikan julukan “heroes” kepada 50 orang pekerja yang mempertaruhkan hidupnya terpapar radiasi demi mendinginkan reaktor, demi melindungi masyarakat, demi menyelamatkan harga diri negara Jepang di dunia internasional. Sifat harakiri demi harga diri yang pernah ditunjukkan bangsa Jepang waktu perang dunia kedua dulu, mungkin akan terulang kembali sekarang. By the way, banyak hal-hal positif yang bisa kita ambil dari bagaiamana negara ini menghadapi situasi yang sangat berat seperti sekarang ini.

SR75

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s