Indonesia Bangsa Pemarah?

Posted: September 30, 2010 in Life

Rasanya sudah akrab ditelinga kita yang namanya tawuran massal, yang hanya diakibatkan oleh masalah kecil dan individual, akhirnya berkembang pesat menjadi kerusuhan sosial yang mengakibatkan kelumpuhan aktifitas seluruh kota bahkan propinsi. Seperti yang terjadi baru-baru, kerusuhan di Tarakan, Kaltim, dan di Jakarta (Diskotik Blowfish).

Apa sih yang salah dengan bangsa kita ini? yang dulu katanya dikenal para wisatawan mancanegara sebagai bangsa yang masyarakatnya ramah, murah senyum, setia kawan dsb. Tapi kalau melihat rekaman banyaknya kerusuhan sosial yang sangat anarkis di negara ini, mungkin suatu saat kita harus menerima gelar sebagai bangsa pemarah.

Sebenarnya, kerusuhan yang terjadi di Indonesia selalu diawali dengan masalah individu, dan menjadi masalah besar adalah ketika banyak warga yang ikut-ikutan, yang akhirnya saling balas membalas antara kedua kubu, dan jadilah kerusuhan sosial yang melibatkan tidak lagi 2 keluarga, tetapi 2 kelompok masyarakat. Jadi inti permasalahannya adalah banyak orang yang tidak ada sangkut pautnya ikut-ikutan dalam kerusuhan tersebut.

Menurut teori sebab akibat dalam bidang sosial, seorang individu di masyarakat yang banyak waktu luang, cenderung untuk mencari kesibukan. Yang menjadi masalah adalah jika seorang individu tsb cenderung melakukan kesibukan yang negatif karena tidak menemukan kesibukan yang positif di masyarakatnya. Kesibukan yang positif ada dimasyarkat jika masyarakat tersebut berpendidikan dan ada tempat untuk menyalurkan keahlian atau pengetahuan tersebut.

Jika memperhatikan kondisi sosekbud masyarakat kita, maka yang ada adalah kondisi masyarakat yang kurang pendidikan dan pengangguran, terutama pada usia produktif. Walau ada diantara mereka yang berusaha bekerja, tetapi dengan pendapatan yang dibawah limit UMR. Hal seperti ini akan menyebabkan akumulasi kekecewaan terhadap sistem kesejahteraan sosial di negara kita, yang terutama diderita oleh angkatan produktif di masyarakat. Akumulasi kekecewaan ini, ditambah dengan banyaknya waktu luang karena menganggur, akan sangat mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan negatif. Sebagai bukti, jika terjadi kerusuhan sosial, maka akan banyak prasarana publik yang dirusak oleh masyarakat.

Contoh yang baik bisa diambil dari negara Jepang. Bisa dikatakan hampir seluruh angkatan produktif diserap lapangan kerja, bahkan karena kekurangan tenaga kerja, Jepang juga giat memperkerjakan tenaga asing. Hampir seluruh generasi muda jepang lulus magister, dan langsung terserap di lapangan kerja. Sehingga praktis senin hingga jumat waktunya habis untuk bekerja, sabtu dan minggu digunakan untuk beristirahat dan berlibur. Setiap orang telah memiliki tanggung jawab yang jelas, masing-masing mencurahkan keahlian dan waktunya untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut, hampir tidak ada lagi space waktu untuk hal2 yang tidak berguna. Sehingga, mungkin jika ahli provokator Indonesia didatangkan ke Jepang untuk men-create kerusuhan sosial, tidak akan berhasil.

Kondisi seperti di atas yang harus diciptakan oleh pemerintah Indonesia, yang sudah sering melakukan studi banding dengan uang rakyat. Menciptakan pendidikan yang murah dan berkualitas dan membuka lapangan kerja baik formal maupun informal dengan upah memadai adalah kerjaan wajib pemerintah  Indonesia. Juga, lebih baik terlambat dari pada tidak pemerintah wajib mengurangi jumlah TKI pendidikan rendah ke luar negeri demi mengangkat derajat bangsa ini di mata negara lain.

SR75

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s