Sampah, enaknya diapain? bag 2

Posted: August 2, 2009 in Latest Technology

Pengelolaan sampah kota yang dilakukan pemerintah kita umumnya masih bersifat pemindahan sampah dari pusat kota atau pusat – pusat keramaian dan perumahan ke pinggiran kota. Hal ini hanya memindahkan masalah pencemaran lingkungan dari pusat kota ke pinggiran kota. Sementara penduduk di pinggiran kota yang lokasinya dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah semakin sadar tentang bahaya pencemaran oleh sampah, mengakibatkan pemerintah kota menghadapi permasalahan sosial untuk melakukan pembebasan lahan TPA.  Penduduk pinggiran kota menolak menjual lahannya ke pemerintah untuk dijadikan lahan TPA, karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, TPA yang dioperasikan pemerintah kota selalu identik dengan bau busuk yang menyebar dan sumber berbagai penyakit menular. Jika saja pemerintah mau membangun dan mengoperasikan TPAnya sesuai standar dan prosedur, sangat mungkin image buruk TPA seperti ini tidak akan terbentuk di masyarakat kita.

Pemerintah kota seharusnya melakukan pengelolaan sampah secara terintegrasi mulai dari hulu sampah (sumber timbulan sampah) hingga ke tempat pengolahan akhir (TPA) sampah, sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara maju. Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan adalah:

1. Sumber Timbulan Sampah

Sebenarnya, tugas penghasil sampah sangat mudah, hanya memilah sampah menurut jenisnya, sampah organik, anorganik (plastik, kertas, botol plastik, logam dsb) dan B3. Kemudian menerapkan konsep reuse (menggunakan kembali) dan reduce (mengurangi sampah) dan recycle (daur ulang), misalnya melakukan komposting skala RT. Dewasa ini, sudah banyak proyek pemerintah dalam bentuk sosialisasi pengelolaan sampah skala RT, termasuk di dalamnya dikenalkan cara memilah sampah, ke masyarakat. Tetapi hendaknya, usaha memilah sampah ini tidak hanya di tujukan ke rumah tangga, tetapi juga instansi-instansi pemerintah sebagai panutan awal dan seharusnya paling gencar dalam melakukan usaha pemilahan ini.

2. Sistem Penampungan Sampah Sementara

Hal yang menyedihkan di tengah banyaknya proyek sosialisasi pengelolaan sampah ke masyarakat, pemerintah belum melakukan perbaikan dalam sistem TPSnya. Masyarakat dikenalkan dengan cara pemilahan sampah, tetapi umumnya TPS yang disediakan pemerintah masih tercampur sempurna. Seharusnya usaha sosialisasi yang dilakukan diikuti dengan penyiapan infrastruktur pendukungnya, sehingga hasil sosialisasi bisa langsung ditindak lanjuti dengan praktek. Pemilahan di sumber dan TPS yang dipisahkan akan memudahkan pengelolaan sampah selanjutnya.

3. Transportasi Sampah

Langkah selanjutnya adalah perbaikan di sistem transportasi sampah. Hal yang terpenting di sini adalah perencanaan rute dan jadwal pengangkutan sampah sesuai dengan jenisnya. Perlu diperhatikan komposisi timbulan sampah antara organik dan anorganik, karena sampah organik umumnya lebih tinggi komposisinya dan mudah membusuk, maka dibutuhkan frekuensi pengangkutan yang lebih tinggi dibandingkan sampah anorganik.

4. Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sampah

Dalam konteks perbaikan pengelolaan ini, maka terminologi yang digunakan adalah tempat pengolahan akhir sampah (TPA). Karena sampah yang sampai ke TPA benar-benar akan diolah. Di TPA ini, berlaku konsep recycle (daur ulang), tidak hanya sekedar menimbun semua sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga melakukan kegiatan komposting untuk sampah organik dan pengepakan untuk sampah anorganik yang bisa didaur ulang.

Sampah masuk ke TPA berdasarkan jenisnya, misalnya sampah organik diarahkan menuju fasilitas pengomposan. Pemerintah kota melalui instansi teknisnya melakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dapat dipasarkan ke instansi lain seperti perkebunan, pertanian, maupun rumah tangga/komersil. Selanjutnya sampah anorganik yang bisa didaur ulang misalnya plastik, kertas, botol plastik dsb diarahkan ke fasilitas pengepakan. Instansi teknis sampah dapat mengarahkan para pemulung ke fasilitas daur ulang ini, atau bekerja sama dalam proses pengepakan. Sehingga mereka tidak mengacak-acak seluruh lokasi TPA, yang bisa mengakibatkan terjangkitnya berbagai macam penyakit menular. Sisa sampah anorganik yang tidak bisa didaur ulang, misalnya kaca, keramik, porcelain dan sebagainya, selanjutnya dapat ditimbun di TPA. Sedangkan sampah yang dikategorikan B3, pemerintah harus bisa mencari dan menjalin kerjasama dengan pihak ketiga yang dapat memanfaatkan atau mengolah sampah tersebut.

SR75

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s